Selama bertahun-tahun, Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) dikenal sebagai salah satu penyebab utama gangguan ovulasi dan infertilitas pada wanita usia reproduktif. Namun, pada tahun 2026, komunitas medis internasional secara resmi memperkenalkan istilah baru, yaitu Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS), sebagai pengganti PCOS. Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama, tetapi mencerminkan pemahaman ilmiah bahwa kondisi tersebut merupakan gangguan hormonal dan metabolik yang memengaruhi seluruh tubuh, bukan hanya ovarium.
Mengapa PCOS Diubah Menjadi PMOS?
Istilah PCOS selama ini dianggap kurang tepat karena memberi kesan bahwa penyakit ini hanya ditandai oleh adanya “kista” pada ovarium. Padahal, banyak wanita dengan PCOS tidak memiliki kista ovarium, sementara sebagian wanita dengan ovarium polikistik justru tidak mengalami gangguan hormonal.
Nama baru Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) lebih menggambarkan karakteristik penyakit yang sebenarnya, yaitu melibatkan:
- Gangguan sistem endokrin (hormon)
- Resistensi insulin dan gangguan metabolisme
- Gangguan fungsi ovarium
- Risiko kesehatan jangka panjang, termasuk diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan infertilitas
Perubahan nama ini merupakan hasil konsensus global yang melibatkan lebih dari 50 organisasi profesi, ribuan tenaga kesehatan, serta lebih dari 22.000 pasien dari berbagai negara. Yang berubah hanyalah terminologinya, sedangkan prinsip diagnosis dan tata laksana tetap mengacu pada pedoman berbasis bukti yang sama
Mengapa PMOS Dapat Menyebabkan Gangguan Kesuburan?
Pada pasien PMOS, resistensi insulin menyebabkan kadar insulin dalam darah meningkat (hiperinsulinemia). Kondisi ini merangsang ovarium menghasilkan hormon androgen secara berlebihan sehingga proses pematangan folikel menjadi terganggu.
Akibatnya:
- Ovulasi terjadi tidak teratur atau bahkan tidak terjadi.
- Banyak folikel berhenti berkembang sebelum mencapai tahap matang.
- Kualitas oosit (sel telur) dapat menurun.
- Peluang terjadinya kehamilan menjadi lebih rendah, baik secara alami maupun melalui program bayi tabung (IVF).
Selain itu, peningkatan stres oksidatif dan gangguan fungsi mitokondria pada sel telur juga diketahui berkontribusi terhadap menurunnya kompetensi oosit pada wanita dengan PMOS.
Myo-Inositol: Pendukung Terapi PMOS Berdasarkan Bukti Ilmiah
Salah satu nutrisi yang paling banyak diteliti pada pasien PMOS adalah myo-inositol. Senyawa ini merupakan anggota keluarga vitamin B kompleks (vitamin-like substance) yang berperan sebagai second messenger dalam jalur pensinyalan insulin dan Follicle Stimulating Hormone (FSH).
Melalui mekanisme tersebut, myo-inositol membantu meningkatkan sensitivitas insulin sehingga kadar insulin dalam darah menjadi lebih terkendali. Perbaikan metabolisme insulin berkontribusi terhadap penurunan produksi androgen berlebih, memperbaiki keseimbangan hormon reproduksi, serta mendukung proses pematangan folikel.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa myo-inositol dapat:
- meningkatkan frekuensi ovulasi,
- memperbaiki keteraturan siklus menstruasi,
- meningkatkan kualitas oosit,
- meningkatkan proporsi oosit matang (MII),
- mendukung kualitas embrio,
- serta meningkatkan peluang keberhasilan program IVF pada pasien yang sesuai.
Bagaimana Myo-Inositol Membantu Kualitas Sel Telur?
Kualitas sel telur merupakan salah satu faktor terpenting dalam keberhasilan pembuahan. Pada pasien PMOS, gangguan metabolik menyebabkan sel telur mengalami penurunan kemampuan menghasilkan energi akibat disfungsi mitokondria dan peningkatan stres oksidatif.
Myo-inositol membantu memperbaiki lingkungan pematangan oosit melalui beberapa mekanisme:
- meningkatkan sensitivitas insulin pada ovarium,
- mendukung jalur sinyal FSH selama proses folikulogenesis,
- membantu menjaga keseimbangan kadar kalsium intraseluler yang penting dalam proses maturasi oosit,
- mengurangi stres oksidatif,
- mendukung fungsi mitokondria sehingga produksi energi (ATP) pada oosit menjadi lebih optimal.
Dengan lingkungan ovarium yang lebih sehat, peluang terbentuknya sel telur berkualitas baik menjadi lebih tinggi, sehingga dapat meningkatkan kemungkinan fertilisasi dan perkembangan embrio yang optimal.
Suplementasi myo-inositol dapat menjadi bagian dari strategi tersebut, terutama pada pasien PMOS yang mengalami resistensi insulin, gangguan ovulasi, atau sedang mempersiapkan kehamilan maupun menjalani program fertilitas.
Kesimpulan
Perubahan nama dari PCOS menjadi PMOS menegaskan bahwa kondisi ini merupakan gangguan hormonal dan metabolik yang kompleks, bukan sekadar masalah pada ovarium. Pemahaman yang lebih tepat diharapkan dapat meningkatkan deteksi dini, penanganan yang lebih komprehensif, serta hasil kesehatan reproduksi yang lebih baik.
Di antara berbagai pendekatan yang tersedia, myo-inositol merupakan salah satu nutrisi yang memiliki dukungan ilmiah kuat dalam membantu memperbaiki sensitivitas insulin, mendukung proses pematangan sel telur, dan meningkatkan kualitas oosit. Bila dikombinasikan dengan gaya hidup sehat dan penanganan medis yang tepat, myo-inositol dapat menjadi bagian penting dalam membantu wanita dengan PMOS mewujudkan peluang kehamilan yang lebih optimal.


